Tropical-MCRM

Senin, 17 Februari 2014

Spons Pembunuh Karang (Terpios hoshinota) menginvasi perairan Indonesia

Berdasarkan jurnal report ilmiah yang di tulis oleh de Voogd et al. (2013) yang diterbitkan oleh Springer dijelaskan tentang serangan spons pembunuh karang dari jenis Terpios hoshinota yang diketahui sudah menginvasi karang di perairan Indonesia. Sebaran spons pembunuh karang ini menurut Reimer et al. (2012) diketahui dari Pulau Pasifik Guam hingga barat-laut Samudera Pasifik.

Spons ini berwarna hitam dan tumbuh berkembang bersama dengan beberapa jenis cyanobakteri secara simbiosis. Spons ini dikenal karena kejadian wabah besar/masif yang terjadi sesekali (occasional), dimana perlahan membunuh karang dan organisme sesil lainnya (de Voogd et al. 2013).

Epidemi ini disebut sebagai "black disease" -tetapi bebeda dengan black band disease (BBD)- oleh beberapa hasil kajian (Fujii et al. 2012, de Voogd et al. 2013). Banyak dikaji di Taiwan dan Jepang dan yang terakhir di Great Barrier Reef, sebelum ditemukan di Indonesia.
 

Jumat, 11 Oktober 2013

Prediksi dampak perubahan iklim di berbagai kawasan di dunia: Indonesia negeri paling awal di dunia

Prediksi dampak perubahan iklim di berbagai kawasan di dunia, menurut penelitian para pakar di University of Hawaii. Sumber: University of Hawaii/Livescience.com. Perhatikan peta berikut ini:


Sumber: Livescience.com

Dalam satu dekade dari sekarang diperkirakan kawasan-kawasan tropis di dunia akan menghadapi dampak perubahan iklim yang parah dan jauh lebih awal dibandingkan kawasan Arktik dan lainnya. Hal ini terungkap dalam sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal ilmiah Nature, yang terbit tanggal 9 Oktober 2013.

Selama ini, banyak studi yang dirilis hanya menyoroti penderitaan vegetasi dan satwa sebagai akibat dari perubahan iklim ini. Untuk pertama kalinya, para peneliti menaruh dampaknya terhadap manusia, apa yang akan terjadi jika kota-kota di dunia mengalami iklim yang sangat ekstrem. Jika kondisi emisi karbon seperti saat ini, maka diperkirakan Asia Tenggara akan menjadi wilayah yang pertama kali mengalami cuaca ekstrem ini.

Jumat, 04 Oktober 2013

Apakah Kesehatan Ekosistem Laut di Dunia Semakin Memburuk?

Lautan kian menghangat karena perubahan iklim, menderita polusi, dan penangkapan ikan berlebih (overfishing).

Kesehatan ekosistem laut di dunia semakin memburuk bahkan lebih cepat dari yang diduga sebelumnya.

Sebuah ulasan dari International Programme on the State of the Ocean (IPSO) memperingatkan bahwa lautan kini berhadapan dengan berbagai jenis ancaman.

Lautan kian menghangat karena perubahan iklim, menderita polusi, dan penangkapan ikan berlebih (overfishing). Selain itu, sifat basa air laut juga kian terkikis karena terus menyerap karbondioksida.

Laporan itu mengatakan: "Kita selalu memanfaatkan laut apa adanya. [Padahal] Laut telah melindungi kita dari dampak terburuk percepatan perubahan iklim dengan menyerap kelebihan karbondioksida dari atmosfer."

"Sementara peningkatan suhu bumi mungkin mengalami perlambatan, laut terus menghangat. Untuk sebagian besar, bagaimanapun, masyarakat dan pembuat kebijakan gagal untuk mengenali - atau memilih untuk mengabaikan - parahnya situasi ini."

Laporan ini juga mengatakan jika dibiarkan, kondisi ini dapat memicu kepunahan massal yang pernah menimpa lautan di masa lalu.

Senin, 11 Februari 2013

Wabah Penyakit Karang

Scientist takes a sample from diseased coral at Kauai (By USGS)
Seperti yang dikutip dari Science Feature USGS, sebuah wabah penyakit karang membunuh sejumlah besar karang di pantai utara pulau Hawaii, Kauai. Ilmuwan USGS bekerja sama dengan peneliti dari University of Hawaii (Institute of Marine Biology), sedang menyelidiki penyebabnya.

"Terumbu karang sangat penting untuk lingkungan bawah air Hawaii dan kesejahteraan keuangan industri pariwisata," kata ilmuan USGS Thierry Works. "Suka atau tidak, kesehatan ekosistem erat terkait dengan kesehatan manusia dan hewan."


Jumat, 08 Februari 2013

Mangrove Yang Diperebutkan

Ada artikel menarik yang dipublikasikan oleh Antaranews.com yang berjudul "Perlindungan mangrove di Indonesia terganjal birokrasi". Menyuratkan informasi mengenai tumpang tindih atau overlay terhadap hak pengelolaan hutan mangrove.

"Selama ini terjadi tumpang tindih pengelolaan hutan mangrove antar-instansi pemerintah, antara lain Kementerian Kehutanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Lingkungan Hidup," kata Sekjen Kiara (Koalisis Rakyat untuk Keadilan Perikanan) Abdul Halim, dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta, Selasa. 

Menurut Abdul Halim, tumpang tindih tersebut yaitu mangrove atau hutan bakau yang dinilai termasuk bagian dari perspektif kehutanan maka diklaim merupakan kewenangan dari Kementerian Kehutanan. Begitu pula sebaliknya, ujar dia, dimana Kementerian Kelautan dan Perikanan memiliki tugas pokok dan fungsi menyangkut sumber daya pesisir yang tidak hanya berkaitan dengan kelautan dan perikanan tetapi juga menyangkut dengan sumber daya pesisir dalam kaitannya, yaitu mangrove atau hutan bakau. "Ditambah lagi dengan kewenangan Kementerian Lingkungan Hidup karena kerusakan mangrove menjadi salah satu kriteria baku kerusakan ekosistem dan merupakan instrumen pencegahan pencemaran dan indikator," katanya. 

Make it easy for you to subscribe to email delivery when I publish a post.